Adalah Adam, seorang lelaki muda yang hidupnya penuh dengan gelora. Ia senang bertualang dan mencari tantangan-tantangan baru untuk ditakhulkan. Mendaki gunung, menyusur sungai, hingga berkenala ke tanah antah berantah ia lakukan.
Pada suatu pengembaraannya, Adam bertemu dengan gadis nan elok menawan. Parasnya jelita, matanya jernih bersinar. Ia adalah seorang gadis yang cerdas, Eli namanya. Tersiar kabar bahwa puluhan pemuda yang meminangnya selalu gagal karena syarat yang diberikan Eli.
Rupanya Adam jatuh hati pada pesona Eli. Ia pun berencana tinggal di kota itu dan hidup bersama Eli. Namun, rupanya Eli tidak tertarik pada Adam. Maka ketika Adam datang menemuinya, ia selalu memberikan tantangan yang sulit agar Adam berhenti mendatanginya.
Namun demikian, pada kenyataannya Adam selalu mampu memenuhi tantangan Eli. Hingga suatu ketika, Eli memanggil Adam. Ia meminta Adam membawakannya batu permata berbentuk bejana. Konon batu itu ada di suatu hutan terlarang. Hanya manusia terpilih yang bisa masuk dan menemukannya. Kebanyakan dari mereka yang mencoba memasukinya akan tersesat hingga menemui ajal atau berhasil keluar menuju daerah asing yang tak terbayangkan.
Adam adalah lelaki yang perkasa dan keras hati. Tantangan semacam itu justru membuatnya bersemangat. Ia sangat percaya diri dengan kemampuannya melebihi apapun. Maka ia memutuskan segera berangkat mencari permata itu.
Sebelum Adam berangkat, Eli berujar "Jika kau tersesat, carilah cahaya. Itulah yang kau cari".
Tiga hari Adam berada dalam hutan terlarang. Namun ia merasa tidak beranjak dari tempatnya semula. Tiada jalan masuk, juga tiada jalan keluar. Adam mulai bimbang. Lalu ia teringat pesan Eli untuk mencari cahaya. Ia ke sudut gua, tempatnya menyalakan perapian. Ia berharap menemukan petunjuk. Namun sayang yang ia lihat hanya bayangannya sendiri. Meliuk-liuk mengikuti gerakan angin yg meniup api.
Hari demi hari berlalu. Setiap hari ia mematut bayangannya sendiri. Lama kelamaan ia berbicara pada bayangannya. Ia merasa bahwa bayangannya adalah Eli sehingga ia memeluk dan tertawa bersama bayangannya. Berjam-jam ia habiskan untuk berbincang dengan bayangan.
Seiring waktu yg berlalu ia lupa akan permata itu. Kini ia mulai mengenal hutan dan.. bayangan. Sesuatu yg kau kejar walau dia ada di sampingmu. Sesuatu yg kau genggam walau dia tak pernah meninggalkanmu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar